Choi Sung Bong: Dari Kehidupan Jalanan, Menjadi Artis Terkenal dan Pencapaian Akademis Melalui Universitas Daring

Tag

, , , , , , , ,

Mungkin sebagian dari kita berasal dari keluarga yang berkecukupan, walaupun pernah mengalami pasang-surut dalam kehidupan, kita tahu dan sadar masih banyak orang yang mengalami penderitaan yang lebih besar. Walaupun begitu, terkadang kita sering lupa untuk terus bersyukur, sebesar apapun dan sepahit apapun penderitaan itu percayalah bahwa ada seseorang yang hidupnya lebih menderita dari kita. Salah satunya adalah Choi Sung-Bong.

Awal Kehidupan 
Choi Sung Bong lahir di Seoul dan ditinggalkan di panti asuhan pada usia 3 tahun. Ia lari dari institusi itu dua tahun kemudian karena dia dianiaya dan dipukuli oleh staf. Dia mengambil rute bus ke Dae-Jeon dan selama 10 tahun ia hidup sebagai “anak jalanan’di antara penjahat dan pecandu narkoba di distrik lampu merah, tidur di tangga bangunan dan toilet umum. Dia mengatakan bahwa ia selamat dengan cara “mengorek” nafkah dengan menjual permen karet dan minuman energi di jalan dan sebuah klub malam.

Nama dan Umur
Choi, nama jalan dari Ji-Sung (mirip bunyinya dengan “Maaf” dalam bahasa Korea), yang diberikan kepadanya oleh seorang pedagang jalanan perempuan. Ketika ia berusia sekitar 14, ia dan guru sekolah malamnya pergi ke kantor polisi setempat di mana sidik jarinya diambil dan akhirnya ia menemukan nama asli dan usianya.

Latar belakang musik
Karena  tinggal di jalan, dia diculik oleh mafia. Dia melarikan diri, tetapi ia harus kembali hidup di jalan  karena ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Choi terinspirasi untuk mengejar karir di bidang musik saat ia berusia 14 tahun, setelah mendengarkan vokalis musik klasik di klub malam di mana dia menjual permen karet. Dia kemudian mengatakan bahwa dia sangat terpesona dengan ketulusan sang vokalis berbeda dengan jenis musik biasa yang ia dengar  di klub tersebut. Ia mencoba untuk menemukan cara untuk belajar musik sendiri melalui penelitian di sebuah kafe internet. Dia ditolak berkali-kali oleh para guru musik yang dia dekati. Dia kemudian menemukan seorang guru, Park Jung-Ja, setelah mengunjungi tempat di mana Choi tinggal (sebuah sofa usang di sekolah malam). Ia setuju untuk mengajarinya tanpa biaya dan membantunya masuk ke sekolah  seni pada usia 16 tahun.

Ketika ia tampil di panggung Korea’s Got Talent, Sung-bong mengejutkan juri dan penonton karena kemampuan nyanyinya yang luar biasa. Itu kontras dengan masa kecilnya yang tidak bahagia. Ia pun berhasil masuk grand final dan jadi juara kedua di bawah penari Korea, Joo Ming-Jong.

Meski begitu, justru Sung-bong-lah yang mempopulerkan Korea’s Got Talent ke seluruh dunia. Hal ini karena videonya di Youtube yang mengguncang dunia hingga ditonton lebih dari 120 juta kali. Sejumlah komentar menyebutkan kalau Sung-bong adalah The Next Susan Boyle, penyanyi antah-berantah Inggris yang menjadi bintang dunia.

Pendidikan
Choi lulus ujian persamaan sekolah menengah sekolah dasar, dan lulus dari sekolah seni dan kemudian belajar di Kyung Hee Cyber ​​University untuk mengejar cita-citanya.

Ia sengaja melanjutkan pendidikan di kampus ini karena sifatnya yang fleksibel serta  akan masuk sebagai mahasiswa baru di Departemen Kebudayaan dan Seni Manajemen di Kyung Hee Cyber ​​University.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=tZ46Ot4_lLo]

Sifat Dosen Dilihat Oleh Mahasiswanya

Tag

, , , , , ,

Dosen selalu benar...Kita selalu salah :-)

Dosen selalu benar…Kita selalu salah 🙂

Sering mahasiswa melihat dosen dari apa yang dirasakannya. Pengalaman pribadi sebagai maha/siswa, guru/dosen dan orang tua , saya selalu melihat “azas keberlimpahan” (abundance principle) adalah sangat penting dalam pengelolaan pembelajaran.

Sebagai dosen/guru, diluar parameter ekonomi, kita harus berpandangan seorang maha/siswa melihat guru/dosen (dan juga sekolah) bukan dari apa yang dikatakan atau diberikannya, tapi apa yang dirasakannya….Mungkin pemeo Sunda “Basa mah teu meuli” sangat tepat dalam hubungan guru/dosen dengan maha/siswa serta stakeholder lainnya.

Sebagai pendidik mungkin kita harus mengkhidmati kata-kata John Steinbeck:

I have come to believe that a great teacher is a great artist and that they are as few as there are any other great artists. Teaching might even be the greatest of the arts since the medium is the human mind and spirit.

Setelah membandingkan beberapa sekolah (dari SD s/d PT), ternyata “things can be anything but is not everything” dan “human is more important than numbers” juga dikhidmati bahwa “schools is not an assembling plant” seperti yang tercermin dari “Kicauan” mahasiswa berikut ini:
saus kacang@sendalboloong
itu dosen selaen (‘katanya’) kalo bikin sambel bisa buat orang sakau ternyata dia juga punya sifat ria.
Who I Am@kaizennd
kok belajar pancasila sih..? iya kata dosen dia sih ini wajib, buat nanamin sikap sifat pancasila sma mahasiswa nya..
Majin Buu@ariprasettio
Sebel sama sifat dadakannya dosen ips.
Sumayyaa®@sumayaamr
Ada dosen yg suka nebak-nebak sifat, karakter, karir dan asmara mahasiswanya. Ada.محمّد ازيز@MuhAziiz

@AnindyaNKD Hahaha. Mungkin minggu depan Bu Dosen akan membahas “Cabe” sebagai kata benda yang telah beralih fungsi menjadi kata sifat. 🙂

Gia Eka Sandi@gia_ekasandi
“Sabar vik, emang itu sifat dia :)) RT @vickycaps: Fix! Dosen PHP”
Eka Sari Oktafia@esoktafia
Sifat asli dosen terlihat saat mengampu mahasiswa semester akhir *tambah galak*
Exsa Apriansyah R@ExsaAR
RT @piimm_: Sifat dosen emang baru bisa ditebak pas nilainya keluar hahahha
adrianisa kamila@adrianisasha
@jsminea dosen aku malah ada yang bisa nebak sifat orang dari preferensi donat (…) ayok kalo mau kepoin sajah/////
Tommy Hutabarat@TommyHutabarat
Siapp mental buat maba khusunyo mipa matematika ketemu dgn dosen beragam sifat 😀 hahaahaha

devia enitasepa@deviaenitasepa
kecepatan lulus berbanding lurus dengan sifat dosen pembimbing

Indriana Sari Sofwan@indrianasari
Yaa memang, karepe dewe itu adalah sifat dosen, kalo karepe wong akeh ya itu namanya musyawarah ndrooo -,-

Rindang Yuliani@Ryu_keren
2. Aku mendapatkan dosen pembimbing skripsi yg sifat perfeksionisnya minta ampun @aida_aie @EmirBooks@Adis_twinniez #GAYaRabbAkuGalau

Gabriel Dinda@dndaonyt
#besoksenin sifat pelupanya disimpen dulu di kosan. Jangan sampe salah ruangan gara2 lupa. Apalagi sampe masuk ruang dosen.@OUR_MAGAZINC

 

Universitas Sebagai Pusat Peradaban Bagi Akademisi, Praktisi dan Birokrasi

Tag

, , , , ,

Universitas

Universitas adalah suatu institusi pendidikan tinggi dan penelitian, yang memberikan gelar akademik dalam berbagai bidang. Sebuah universitas menyediakan pendidikan sarjana dan pascasarjana. Kata universitas berasal dari bahasa Latin “universitas magistrorum et scholarium”, yang berarti “komunitas guru dan akademisi”

Universitas Barat pertama adalah sebuah Akademi yang didirikan pada tahun 387 SM oleh filsuf Yunani Plato, di mana para siswanya diajarkan filsafat, matematika, dan olah raga. Universitas-universitas yang paling awal didirikan di Eropa adalah:

  1. Universitas Magnaura di Konstantinopel dalam Kekaisaran Bizantium, sekarang Istanbul, Turki tahun 849 oleh bupati Bardas pada zaman Kaisar Michael III
  2. Universitas Preslav di Bulgaria dan Universitas Ohrid di Makedonia dalam Kekaisaran Bulgaria pada abad ke-9
  3. Universitas Bologna di Bologna, Italia (1088)
  4. Universitas Paris di Perancis dan Universitas Oxford di Inggris dalam masa Abad Pertengahan (sekitar abad ke-11 hingga 12) dengan pelajaran hukum, perobatan, dan teologi.

Institusi seperti universitas ini telah ada di Persia dalam dunia Islam, salah satu yang terkenal adalah Akademi Gundisapur dan juga Universitas Al Azhar di Kairo, yang merupakan universitas tertua di dunia yang masih beroperasi. Salah satu universitas di Asia yang terkenal lainnya adalah Universitas Nalanda di Bihar, India, di mana filsuf Buddha abad ke-2 Nagarjuna berpusat.

Universitas dalam pendidikan di Indonesia merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademi, institut, politeknik, dan sekolah tinggi. Universitas terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi pada sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

Peradaban

Peradaban memiliki pola yang jelas berbeda dari kehidupan masyarakat biasa. Kata peradaban kadang-kadang didefinisikan sebagai “sebuah kata yang berarti ‘hidup di kota-kota'” (Standage 2005:25 ). Masyarakat yang bukan petani berkumpul di kota-kota untuk bekerja dan berdagang. Dibandingkan dengan masyarakat lain, peradaban memiliki struktur politik yang lebih kompleks, yaitu negara. Masyarakat negara lebih bertingkat-tingkat (stratified) dari masyarakat lain; ada perbedaan besar di antara kelas-kelas sosial. Kelas penguasa, yang biasanya terkonsentrasi di kota-kota, memiliki kontrol atas sebagian besar surplus  kekayaan yang merupakan “kehendak” melalui tindakan pemerintah, birokrasi, teknokrasi, plutokrasi , meritokrasi , ad-hoc-krasi  dan militer.

Istilah Peradaban juga ditetapkan dan dipahami dalam berbagai  situasi ketika ada definisi standar yang diterima secara tidak luas. Kadang-kadang digunakan secara sinonim dengan budaya. Peradaban juga dapat merujuk kepada masyarakat secara keseluruhan. Pada Abad kesembilan belas – antropolog Inggris Edward Burnett Tylor, misalnya mengatakan peradaban adalah “Kehidupan sosial umat manusia secara total”. Dengan kata lain, peradaban adalah totalitas pengetahuan dan budaya manusia yang diwakili oleh  “Kemajuan” masyarakat pada waktu tertentu.

Di lain fihak  Felipe Fernández-Armesto seorang Professor di  University of London pada Konferensi UNESCO yang bertajuk “Civilizations: How we see others, how others see us”, Sifat kebudayaan dan peradaban telah menjadi obyek studi mendesak karena dua alasan. Pertama, pada akhir Perang Dingin, ‘Kacamata kuda’ kaum akademik yang sebelumnya membagi dunia telah menghilang.  Oleh karena itu, Peradaban kembali muncul sebagai skala besar yang paling mencolok dari studi akademis yang tersedia. Samuel Huntington membantu memusatkan perhatian pada keadaan ini agar berubah. Dia mengartikulasikan pentingnya peradaban baru sebagai kategori untuk dipelajari, dan menyarankan bahwa konflik antar – peradaban akan berhasil melenyapkan konflik dan ideologis internasiona. Urgensi Ekstra  telah ditambahkan dengan usulan ‘Penggunaan kata yang longgar’ oleh pemimpin Barat pada ‘Peradaban’ dalam pembenaran perang  saat ini. Dalam konteks ini, Perdana Menteri Inggris  Tony Blair, pernah berbicara bahwa perang yang dilakukan saat ini dalam rangka membela peradaban: Pada tahun 2000, pembenaran dari pemboman Serbia dan dalam “kondisi darurat dunia” yang dimulai pada 11 September 2001. Bahasa serupa pernah digunakan oleh Presiden Amerika, George W. Bush, dalam mengutuk kebiadaban 11 September sebagai serangan terhadap peradaban –  dalam derajat yang berbeda, adalah beberapa tindakan perang lainnya, termasuk pemboman orang-orang yang tidak bersalah, yang melahirkan tindakan tidak bertanggung jawab atas terorisme atau pembantaian di Serbia dan Afghanistan. Tokoh lain saat koalisi pimpinan AS melawan terorisme, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi, mendukung pandangan bahwa koalisi pimpinan AS melawan terorisme terlibat dalam bentrokan peradaban, serta menambahkan bahwa peradaban Barat  lebih tinggi dari Islam.

Universitas Sebagai Pusat Peradaban

“Ibarat sumber mata air, kampus akan selalu didatangi masyarakat, sampai kapanpun yang namanya sekolah dan lembaga pendidikan tidak akan pernah mati bahkan akan selalu dijaga dan dihidupi oleh masyarakat” demikian yang disampaikan  Prof.Dr. Komarudin Hidayat dalam orasi ilmiahnya, yang berjudul “kampus sebagai pusat peradaban” di acara Dies Natalis Undip ke-56, di  gedung Prof Sudharto Kampus Undip Tembalang.

“Setidaknya ada 5 fungsi utama yang diharapkan masyarakat terhadap universitas, yaitu pertama, universitas sebagai tempat transfer ilmu. kedua, universitas memiliki misi membentuk dan menyiapkan calon-calon pemimpin yang berkarakter. Ketiga, Universitas sebagai produsen ilmu pengetahuan baru. Keempat, universitas sebagai pusat peradaban dan kelima,universitas mempunyai komitmen dan agenda pengabdian masyarakat dengan format kegiatan yang bervariasi” jelasnya.

Lebih lanjut menyoal kampus sebagai pusat peradaban, Komarudin menyampaikan bahwa beberapa dekade yang lalu ketika persaingan ekonomi dan teknologi belum semaju dan secepat sekarang, desakan dan beban terhadap kampus masih terasa ringan. “Tetapi sekarang dunia sudah berubah”, ujarnya.

Tuntutan dan persaingan lokal, regional dan global hadir serentak, sementara masyarakat kampus di proyeksikan sebagai supplier sarjana terdidik menjawab tantangan itu. Hanya Universitas yang mampu menghasilkan sarjana yang trainable dan memiliki intellectual adabtability dan intellectual flexibilty dengan integritas yang kokoh yang akan dianggap bagus oleh masyarakat“tegasnya.

Dilain kesempatan,  Jend. (Purn) Djoko Santoso, dalam acara seminar “Pemimpin Untuk Membangun Peradaban Indonesia Baru”. Yang diselenggarakan oleh Magister Ilmu Pemerintahan UMY di gedung AR. Fachruddin A UMY, Kamis (27/3/2014) menyampaikan:

Jika kita lihat sejarah dari beberapa negara Asean, Indonesia merupakan bangsa yang menjadi pelopor bagi yang lainnya. Bahkan Malaysia asalnya dari Riau, pemandu wisatanya mengakui itu. Yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan kinerja dan semangat cinta tanah air.

Selain itu, untuk mencapai peradaban Indonesia baru dan bisa menjadi pusat peradaban ASEAN, menurut Djoko Indonesia juga harus memiliki pemimpin yang berkarakter. Dibutuhkan pula pemimpin yang transformatif, adil dan memiliki tujuan untuk menyejahterakan masyarakat. “Rakyat sejahtera, itu tandanya negara kuat. Kita harus menjadi negara kuat, kalau tidak kita akan ketinggalan oleh negara tetangga,” ungkapnya.

Djoko mengatakan, untuk menjadi negara kuat Indonesia perlu memperhatikan pertanian dan kelautan. Karena pada dasarnya Indonesia adalah negara maritim. “Indonesia harus memantapkan pertanian dan mengembangkan kelautan. Karena Indonesia terdiri dari tanah dan air, yaitu kaya akan manfaat tanah dan kaya manfaat air,” jelasnya.

Di samping itu, sebagai negara yang maritim, Djoko menilai pemimpin Indonesia juga harus memperhatikan masalah kepulauan. Terutama alokasi dana pemerintahan untuk mengembangkan infrastruktur. “Masalah kepulauan ataupun masalah perbatasan harus menjadi perhatian pemerintah. Terutama sekali menjaga keamanan dan kepentingan nasional Indonesia,” ungkapnya.

Djoko juga menjelaskan, untuk mencapai peradaban Indonesia baru dalam hal ekonomi, purnawirawan ini menyarankan Indonesia menganut ekonomi syari’ah. Karena itu salah satu alternatif yang terbaik. “Terobosan abad ini untuk bidang ekonomi adalah ekonomi syari’ah. Kita harus bisa menggunakan sistem ini dan kita sesuaikan dengan Indonesia,” jelasnya.

Selain itu Djoko menjelaskan, untuk mencapai Indonesia baru, Politik harus berdaulat, ekonomi harus berdikari, dan budaya harus menjadi kepribadian. “Itu semua sudah dirumuskan oleh pendiri bangsa Indonesia,” jelasnya.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=WsxxzarPwYo]

Pendidikan Bagian Tak Terpisahkan Dari Peradaban Kehidupan

Tag

, , , ,

Beberapa hari lalu kami berkeliling desa-desa di Jawa Barat dalam rangka sebagai “Reviewer” Komunitas berbasis TIK untuk Jabar ICT Award. Saya didampingi seorang rekan dari Training Comlabs ITB yang mendapat anugrah beasiswa Doktoral dari Universitas Hokkaido, saya mendapat cerita menarik……

Saat tiba di Bandara, ia dijemput oleh professornya sampai di “tempat kos” selama di Jepang. Cerita belum berakhir di situ, ia kemudian “diajarkan” bagaimana menggunakan ATM, menunjukkan rute, serta hal-hal lain berhubungan dengan “bagaimana manusia berada di tempat baru secara sistematis dan semestinya”

Pantaslah putri kami yang di SBM-ITB ingin melanjutkan sekolah ke Universitas Tokyo ……

Beruntunglah bapak&ibu Dosen yang dapat bersekolah di negara-negara di mana “Pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dari Peradaban Kehidupan”…..

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=q5yJvv5q5mM]

The Next-Big-Thing in Online Education…Learning in Real Time

Pendidikan secara online juga bisa bernilai dan menyenangkan 🙂

Artikel ini membahas potensi komunikasi sinkron dalam pendidikan online dengan menganalisis alat-alat dan platform terbaru yang memfasilitasi komunikasi kelompok secara real-time, dan pedagogi yang berkaitan dengan penerapan alat komunikasi sinkron ke dalam lingkungan belajar asinkron.

Online Learning Insights

This article examines the potential of synchronous communication in online education by analyzing the newest tools and platforms that facilitate real-time group communication, and the pedagogy associated with implementing synchronous communication tools into asynchronous learning environments.

synchronous communication in online courses synchronous communication

Communicating in real-time from a distance has never been easier. There are numerous new platforms and applications (apps) available free-of-charge that are easy-to-use and facilitate seamless communication between geographically distant people with access to a smart phone or laptop. After reading a WSJ article reviewing several smart phone apps that facilitate real-time communication among small groups seamlessly, I realize that the time is coming where synchronous tools will bring online education to the next level. Over the last two years there’s been a flood of free apps and platforms on the market that break down distance barriers and allow people to communicate from their handheld mobile device, tablet or laptop. One example…

Lihat pos aslinya 1.684 kata lagi

Hubungan Manfaat (Benefit) Dari Dosen Dengan Keuntungan (Profit) Yang Diberikan Rakyat

Tag

, , , , , , ,

Logo FDI-23Jan14

Dosen sebagai akademisi pasti tahu bagaimana memberikan “Above Average Return’ (Pengembalian di atas rata2) pada Konstituen-nya (Rakyat) sbg pembayar pajak.

Rakyat sekarang cerdas2, pada suatu saat mereka akan menghargai fihak yang memberikan Benefit (manfaat) tertinggi.

Pemerintah (Orang yg memerintah) belum tetntu mempresentasikan rakyat. Namun yang pasti, bila rakyat (termasuk di dalamnya mahasiswa), bila merasa diberi manfaat besar dari dosen, mereka mau memberi Profit (keuntungan) sesuai kapasitasnya

Maaf….Mirip seperti Hasil Ujian Mahasiswa…….Ini persoalan “Distribusi Normal” dalam statistik…..Bila kita menerapkan hal yang sama bagi dosen (Yang berprestasi diberi penghargaan terbesar/Pay by performance), saya kira akan lebih baik kinerjanya

Ya…Mau tidak kita (GDI/FDI) sebagai akademisi memulai Naskah Akademis KPI (Key Performance Indicator) untuk kita semua …. Toh gaji kita bukan dibayar Rektor/Universitas/DIKTI/Kemdikbud tapi Rakyat sebagai Pemangku Kepentingan Utama (baca: “konsumen”) melalui APBN atau SPP 🙂

Bagi saya yg sdh bekerja dari mulai BUMN, Multi National Company sampai sekarang ini menjadi Dosen….Prinsip yang saya pakai adalah “Our salary paid by our Tax Payer/Customer”

Dosen adalah “Inti Atom” Sistem Pendidikan Tinggi, semestinya “Bukan Bagian Dari Masalah, Namun Bagian Dari Solusi”

Tag

, , , , , , ,

Sangat “keras dan jelas” (Loud and Clear) berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, TENTANG GURU DAN DOSEN dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009, TENTANG DOSEN:

“Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”

Restropeksi saya, semestinya secara “Design Thinking” dan “System Process”, perlu disadari bahwa “Masyarakat” adalah produk tertinggi dari Pendidikan Tinggi, sedangkan “Dosen” adalah bagian dari “Proses Sistem” (bahkan katalisator) yang tidak “larut” oleh proses itu sendiri …..

Jelas inti (baca: subjek) semua “sub-proses sistem” dari “mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat” adalah DOSEN (dengan hurup besar)

Dan karena Dosen adalah “inti dari atom” Sistem Pendidikan Tinggi”, semestinya “Bukan Bagian Dari Masalah, Namun Bagian Dari Solusi”…..

Menuru Ibu Ranny Emilia: Suka sekali…tapi bagaimana ya meyakinkan pembuat keputusan di negara kita bahwa itulah intinya pendidikan? Seperti yang bapak katakan kita butuh waktu, sementara Kemendikbud berpacu dengan tuntutan pasar terbuka, globalisasi, kemiskinan, kelangkaan enegry,dlsb. Hari2 ini perbincangan tentang kompetensi pendidikan yang sering kita dengar lebih kepada memenuhi kebutuhan-kebutuhan semacam itu. Sepertinya kepentingan praktikal/pragmatik tidak berbading lurus dengan kepentingan moral/peradaban. Apa kira2 yang bisa dilakukan Dosen Indonesia untuk membuat kedua hal tersebut bisa bertemu pak? Mohon pencerahan……

Baca juga disini.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=WsxxzarPwYo]

Kinerja Maha/Siswa adalah “Produk Utama” Kepakaran Dosen

Tag

, , , , , ,

Selamat pagi Bapak/Ibu Dosen YTH.

Putri kami yang sedang kuliah di Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung menjadi Penerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Ditjen DIKTI Tahun 2014 bidang Pengabdian Masyarakat.

Saya ucapkan terima kasih pada semua dosen pembimbing Program Kreativitas Mahasiswa di Indonesia yang menyumbangkan waktu dan pikirannya. Pengalaman pribadi, maha/siswa selain memperoleh “Personal Victory” melalui “Personal Learning”, juga “Team Victory” melalui “Team Learning” bahkan “Organizational Victory” (baca: nama harum Perguruan Tinggi) melalui “Organizational Learning”.

In My Humble Opinion (IMHO).
Disinilah salah satu “Keluaran” (Output) Kepakaran kita diuji dari sisi “Information, Knowledge and Wisdom” karena kinerja maha/siswa adalah “Produk Utama” kita sebagai dosen.

Silahkan baca juga disini….

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=gr2lZfQi2AQ]

Harapan Mahasiswa Perguruan Tinggi Pada Bidik Misi

Tag

, , , , , ,

Apa Itu Bidik Misi

Bidikmisi adalah program bantuan biaya pendidikan yang diberikan Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun 2010 kepada mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi.

Bidikmisi merupakan program 100 Hari Kerja Menteri Pendidikan Nasional yang dicanangkan pada tahun 2010. Perguruan tinggi yang mendapat bantuan Bidikmisi yaitu perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama.
Harapan Mahasiswa Saat Ini

Setelah berjalan kurang lebih tiga tahun, mari kita simak beberapa Harapan Mahasiswa Perguruan Tinggi Pada Bidik Misi melalui Twitter berikut ini:

  • Fajar Robert KH@FajarRobertKH

Beasiswa Bidik Misi Diupayakan Seperti Gaji

  • C h i k a@rischilia

kasian peserta bidik misi yg terkesan ditakut-takutin dgn “tanggung jawabnya besar”. Sedangkan ‘tikus’ nyantai aja tuh makan uang rakyat ._.

  • niken ari setyowati@nikenari

udah azan, salat yuk. berdoa semoga uang bidik misi turun 🙂 AMIN

  • Guntur Yanuar@gunt0er

Dana bidik misi akan segera cair

  • M Yugo Abdul Ghani@bagollgates

Ternyata dana bidik misi gk cair cair gara2 kemendikbudnya nahan duit, disini udh kelaparan aja -.- untung kmrn dpt arisan

  • alieshya@ai_seila

bidik misi telat.. tunjangan guru telat.. uangnya mengendap.. bunganya tetap mengalir toh? milyaran? banyak atuhh..

  • RuthFloridaHutabarat@RFHhutabarat

Maaf teman-teman. Aku rasa program bidik misi tahun ini memang salah fokus. #gagalTotal

  • Indra Lesmana@indralesmanai

akhir – akhir ini aku males kuliah.. mungkin karena aku terlalu memikirkan biaya hidup ku ini.. bidik misi g cair – cair.. hutangku menumpuk

  • Fadhillah Latief D@fadhillah150394

sdikit demi sedikit teman” q mengeluh dan ada yg menyerah karna sampai skrang uang bidik misi blum cair..

  • raden roro rika d@toktokroro

poin pentingnya adalah “bidik misi turun minggu depan”#inforowrow

  • Miftakhul Jannatin@titiin_

Adakah “pihak” yg memperkaya diri dr aliran dana bidik misi ?

  • hattma@hattmazza

kapan bidik misi cair 😦

  • Nurus Sa’adah@nurussa

bidik misi , mungkin mereka melihat kami seperti sedang ada di surga. Tapi sebenarnya sungguh beban yg hrus kami pertanggungjwabkan besar

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=E-xf_X0-g8Q]

 

Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen (SIPKD): Perlunya Integrasi Manusia, Proses Dan Teknologi

Tag

, , , , , , , , , , ,

Sering orang melihat TIK/Telematika adalah “obat manjur” dalam “mengobati sakit” yang berhubungan dengan institusi agar “Better, Larger, Cheaper and Faster”. Tapi kita sering lupa selain Teknologi, TIK/Telematika juga “mengandung unsur” Manusia dan Proses. 

Baru-baru ini dosen di Indonesia dihebohkan oleh instruksi dari Ditendik, Dikti untuk mengisi form online Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen (SIPKD). Instruksi Dikti kepada semua dosen yang sudah ber-NIDN untuk mengisi SIPKD sekali lagi  menunjukkan niat Dikti untuk mengontrol semua aspek manajemen pendidikan tinggi di Indonesia, bahkan sampai ke hal-hal terkecil sekalipun. Dulu ada EPSBED yang kemudian berubah menjadi PDPT yang berhasrat merekam data akademik sampai ke program-program studi. Tahun kemarin ada program pemutakhiran data dosen, dan tahun ini muncul SIPKD.

Saya coba melakukan studi ilmiah, penelusuran dan pengetesan. Setelah melakukan “Remote Dianostic” dari Kota Bandung dapat diambil kesimpulan sementara:

1. People:

  • Symptom: Tidak ada “Process Owner” yang jelas
  • Solusi:
    • Dibentuk Gugus Tugas Adhoc Nasional Pemulihan Fungsi SIKPD termasuk “Help Desk”
    • Gugus Tugas (Task Force) Tetap SIKPD

2. Process:

  • Simptom: Tidak adanya “Change Management” dan “Disaster Recovery”dari “Process Owner” IDIKTI)
  • Solusi:
    • Kembali ke prosedur/aplikasi sebelumnya (manual, elektronik atau kombinasi)
    • Kembali ke SIKPD.dikti.go.id dengan “Conditional State” (Penjadwalan berdasarkan region, propins, kota atau universitas)
    • Penggunaan data dari masing2 Universitas yang dikuti dengan proses validasi data
    • Penggunaan SIKPD.dikti.go.id “skala penuh” (Full Blown Operation) dengan SOP dan “Governance” yang disesuaikan kemampuan “People, Process & Technology” yang tersedia.

3. Technology:

  • Simptom:
    • Dari pengecekan diketahui bahwa server berada di Kantor Pusat Depdikbud/DIKTI.
    • Menggunakan database MySQL yang secara default hanya mampu melayani 151 user secara bersamaan (concurrent)
    • Routing jaringan masih cukup panjang di tes dengan Traceroute dari Bandung (9 hop)
  • Solusi:
    • “Memindahkan” server SIKPD ke Penyelenggara jasa Internet yang punya Data Center di Indonesia Internet Exchange (IIX) untuk memperoleh Fasilitas dan Bandwidth yang mumpuni.
    • Tuning server, aplikasi dan database untuk menangani user sejumlah dosen tetap yang mencapai 160 ribu orang
    • Ada “Mirorring Server” SIKPD di setiap Region/Propinsi

Demikian sekilas info 🙂

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=E-xf_X0-g8Q]