Tag

, , , , ,

Universitas

Universitas adalah suatu institusi pendidikan tinggi dan penelitian, yang memberikan gelar akademik dalam berbagai bidang. Sebuah universitas menyediakan pendidikan sarjana dan pascasarjana. Kata universitas berasal dari bahasa Latin “universitas magistrorum et scholarium”, yang berarti “komunitas guru dan akademisi”

Universitas Barat pertama adalah sebuah Akademi yang didirikan pada tahun 387 SM oleh filsuf Yunani Plato, di mana para siswanya diajarkan filsafat, matematika, dan olah raga. Universitas-universitas yang paling awal didirikan di Eropa adalah:

  1. Universitas Magnaura di Konstantinopel dalam Kekaisaran Bizantium, sekarang Istanbul, Turki tahun 849 oleh bupati Bardas pada zaman Kaisar Michael III
  2. Universitas Preslav di Bulgaria dan Universitas Ohrid di Makedonia dalam Kekaisaran Bulgaria pada abad ke-9
  3. Universitas Bologna di Bologna, Italia (1088)
  4. Universitas Paris di Perancis dan Universitas Oxford di Inggris dalam masa Abad Pertengahan (sekitar abad ke-11 hingga 12) dengan pelajaran hukum, perobatan, dan teologi.

Institusi seperti universitas ini telah ada di Persia dalam dunia Islam, salah satu yang terkenal adalah Akademi Gundisapur dan juga Universitas Al Azhar di Kairo, yang merupakan universitas tertua di dunia yang masih beroperasi. Salah satu universitas di Asia yang terkenal lainnya adalah Universitas Nalanda di Bihar, India, di mana filsuf Buddha abad ke-2 Nagarjuna berpusat.

Universitas dalam pendidikan di Indonesia merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademi, institut, politeknik, dan sekolah tinggi. Universitas terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi pada sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

Peradaban

Peradaban memiliki pola yang jelas berbeda dari kehidupan masyarakat biasa. Kata peradaban kadang-kadang didefinisikan sebagai “sebuah kata yang berarti ‘hidup di kota-kota'” (Standage 2005:25 ). Masyarakat yang bukan petani berkumpul di kota-kota untuk bekerja dan berdagang. Dibandingkan dengan masyarakat lain, peradaban memiliki struktur politik yang lebih kompleks, yaitu negara. Masyarakat negara lebih bertingkat-tingkat (stratified) dari masyarakat lain; ada perbedaan besar di antara kelas-kelas sosial. Kelas penguasa, yang biasanya terkonsentrasi di kota-kota, memiliki kontrol atas sebagian besar surplus  kekayaan yang merupakan “kehendak” melalui tindakan pemerintah, birokrasi, teknokrasi, plutokrasi , meritokrasi , ad-hoc-krasi  dan militer.

Istilah Peradaban juga ditetapkan dan dipahami dalam berbagai  situasi ketika ada definisi standar yang diterima secara tidak luas. Kadang-kadang digunakan secara sinonim dengan budaya. Peradaban juga dapat merujuk kepada masyarakat secara keseluruhan. Pada Abad kesembilan belas – antropolog Inggris Edward Burnett Tylor, misalnya mengatakan peradaban adalah “Kehidupan sosial umat manusia secara total”. Dengan kata lain, peradaban adalah totalitas pengetahuan dan budaya manusia yang diwakili oleh  “Kemajuan” masyarakat pada waktu tertentu.

Di lain fihak  Felipe Fernández-Armesto seorang Professor di  University of London pada Konferensi UNESCO yang bertajuk “Civilizations: How we see others, how others see us”, Sifat kebudayaan dan peradaban telah menjadi obyek studi mendesak karena dua alasan. Pertama, pada akhir Perang Dingin, ‘Kacamata kuda’ kaum akademik yang sebelumnya membagi dunia telah menghilang.  Oleh karena itu, Peradaban kembali muncul sebagai skala besar yang paling mencolok dari studi akademis yang tersedia. Samuel Huntington membantu memusatkan perhatian pada keadaan ini agar berubah. Dia mengartikulasikan pentingnya peradaban baru sebagai kategori untuk dipelajari, dan menyarankan bahwa konflik antar – peradaban akan berhasil melenyapkan konflik dan ideologis internasiona. Urgensi Ekstra  telah ditambahkan dengan usulan ‘Penggunaan kata yang longgar’ oleh pemimpin Barat pada ‘Peradaban’ dalam pembenaran perang  saat ini. Dalam konteks ini, Perdana Menteri Inggris  Tony Blair, pernah berbicara bahwa perang yang dilakukan saat ini dalam rangka membela peradaban: Pada tahun 2000, pembenaran dari pemboman Serbia dan dalam “kondisi darurat dunia” yang dimulai pada 11 September 2001. Bahasa serupa pernah digunakan oleh Presiden Amerika, George W. Bush, dalam mengutuk kebiadaban 11 September sebagai serangan terhadap peradaban –  dalam derajat yang berbeda, adalah beberapa tindakan perang lainnya, termasuk pemboman orang-orang yang tidak bersalah, yang melahirkan tindakan tidak bertanggung jawab atas terorisme atau pembantaian di Serbia dan Afghanistan. Tokoh lain saat koalisi pimpinan AS melawan terorisme, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi, mendukung pandangan bahwa koalisi pimpinan AS melawan terorisme terlibat dalam bentrokan peradaban, serta menambahkan bahwa peradaban Barat  lebih tinggi dari Islam.

Universitas Sebagai Pusat Peradaban

“Ibarat sumber mata air, kampus akan selalu didatangi masyarakat, sampai kapanpun yang namanya sekolah dan lembaga pendidikan tidak akan pernah mati bahkan akan selalu dijaga dan dihidupi oleh masyarakat” demikian yang disampaikan  Prof.Dr. Komarudin Hidayat dalam orasi ilmiahnya, yang berjudul “kampus sebagai pusat peradaban” di acara Dies Natalis Undip ke-56, di  gedung Prof Sudharto Kampus Undip Tembalang.

“Setidaknya ada 5 fungsi utama yang diharapkan masyarakat terhadap universitas, yaitu pertama, universitas sebagai tempat transfer ilmu. kedua, universitas memiliki misi membentuk dan menyiapkan calon-calon pemimpin yang berkarakter. Ketiga, Universitas sebagai produsen ilmu pengetahuan baru. Keempat, universitas sebagai pusat peradaban dan kelima,universitas mempunyai komitmen dan agenda pengabdian masyarakat dengan format kegiatan yang bervariasi” jelasnya.

Lebih lanjut menyoal kampus sebagai pusat peradaban, Komarudin menyampaikan bahwa beberapa dekade yang lalu ketika persaingan ekonomi dan teknologi belum semaju dan secepat sekarang, desakan dan beban terhadap kampus masih terasa ringan. “Tetapi sekarang dunia sudah berubah”, ujarnya.

Tuntutan dan persaingan lokal, regional dan global hadir serentak, sementara masyarakat kampus di proyeksikan sebagai supplier sarjana terdidik menjawab tantangan itu. Hanya Universitas yang mampu menghasilkan sarjana yang trainable dan memiliki intellectual adabtability dan intellectual flexibilty dengan integritas yang kokoh yang akan dianggap bagus oleh masyarakat“tegasnya.

Dilain kesempatan,  Jend. (Purn) Djoko Santoso, dalam acara seminar “Pemimpin Untuk Membangun Peradaban Indonesia Baru”. Yang diselenggarakan oleh Magister Ilmu Pemerintahan UMY di gedung AR. Fachruddin A UMY, Kamis (27/3/2014) menyampaikan:

Jika kita lihat sejarah dari beberapa negara Asean, Indonesia merupakan bangsa yang menjadi pelopor bagi yang lainnya. Bahkan Malaysia asalnya dari Riau, pemandu wisatanya mengakui itu. Yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan kinerja dan semangat cinta tanah air.

Selain itu, untuk mencapai peradaban Indonesia baru dan bisa menjadi pusat peradaban ASEAN, menurut Djoko Indonesia juga harus memiliki pemimpin yang berkarakter. Dibutuhkan pula pemimpin yang transformatif, adil dan memiliki tujuan untuk menyejahterakan masyarakat. “Rakyat sejahtera, itu tandanya negara kuat. Kita harus menjadi negara kuat, kalau tidak kita akan ketinggalan oleh negara tetangga,” ungkapnya.

Djoko mengatakan, untuk menjadi negara kuat Indonesia perlu memperhatikan pertanian dan kelautan. Karena pada dasarnya Indonesia adalah negara maritim. “Indonesia harus memantapkan pertanian dan mengembangkan kelautan. Karena Indonesia terdiri dari tanah dan air, yaitu kaya akan manfaat tanah dan kaya manfaat air,” jelasnya.

Di samping itu, sebagai negara yang maritim, Djoko menilai pemimpin Indonesia juga harus memperhatikan masalah kepulauan. Terutama alokasi dana pemerintahan untuk mengembangkan infrastruktur. “Masalah kepulauan ataupun masalah perbatasan harus menjadi perhatian pemerintah. Terutama sekali menjaga keamanan dan kepentingan nasional Indonesia,” ungkapnya.

Djoko juga menjelaskan, untuk mencapai peradaban Indonesia baru dalam hal ekonomi, purnawirawan ini menyarankan Indonesia menganut ekonomi syari’ah. Karena itu salah satu alternatif yang terbaik. “Terobosan abad ini untuk bidang ekonomi adalah ekonomi syari’ah. Kita harus bisa menggunakan sistem ini dan kita sesuaikan dengan Indonesia,” jelasnya.

Selain itu Djoko menjelaskan, untuk mencapai Indonesia baru, Politik harus berdaulat, ekonomi harus berdikari, dan budaya harus menjadi kepribadian. “Itu semua sudah dirumuskan oleh pendiri bangsa Indonesia,” jelasnya.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=WsxxzarPwYo]