Tag

, , , , , , ,

Sangat “keras dan jelas” (Loud and Clear) berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, TENTANG GURU DAN DOSEN dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009, TENTANG DOSEN:

“Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”

Restropeksi saya, semestinya secara “Design Thinking” dan “System Process”, perlu disadari bahwa “Masyarakat” adalah produk tertinggi dari Pendidikan Tinggi, sedangkan “Dosen” adalah bagian dari “Proses Sistem” (bahkan katalisator) yang tidak “larut” oleh proses itu sendiri …..

Jelas inti (baca: subjek) semua “sub-proses sistem” dari “mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat” adalah DOSEN (dengan hurup besar)

Dan karena Dosen adalah “inti dari atom” Sistem Pendidikan Tinggi”, semestinya “Bukan Bagian Dari Masalah, Namun Bagian Dari Solusi”…..

Menuru Ibu Ranny Emilia: Suka sekali…tapi bagaimana ya meyakinkan pembuat keputusan di negara kita bahwa itulah intinya pendidikan? Seperti yang bapak katakan kita butuh waktu, sementara Kemendikbud berpacu dengan tuntutan pasar terbuka, globalisasi, kemiskinan, kelangkaan enegry,dlsb. Hari2 ini perbincangan tentang kompetensi pendidikan yang sering kita dengar lebih kepada memenuhi kebutuhan-kebutuhan semacam itu. Sepertinya kepentingan praktikal/pragmatik tidak berbading lurus dengan kepentingan moral/peradaban. Apa kira2 yang bisa dilakukan Dosen Indonesia untuk membuat kedua hal tersebut bisa bertemu pak? Mohon pencerahan……

Baca juga disini.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=WsxxzarPwYo]