Tag

, , , , , , , , , , ,

Sering orang melihat TIK/Telematika adalah “obat manjur” dalam “mengobati sakit” yang berhubungan dengan institusi agar “Better, Larger, Cheaper and Faster”. Tapi kita sering lupa selain Teknologi, TIK/Telematika juga “mengandung unsur” Manusia dan Proses. 

Baru-baru ini dosen di Indonesia dihebohkan oleh instruksi dari Ditendik, Dikti untuk mengisi form online Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen (SIPKD). Instruksi Dikti kepada semua dosen yang sudah ber-NIDN untuk mengisi SIPKD sekali lagi  menunjukkan niat Dikti untuk mengontrol semua aspek manajemen pendidikan tinggi di Indonesia, bahkan sampai ke hal-hal terkecil sekalipun. Dulu ada EPSBED yang kemudian berubah menjadi PDPT yang berhasrat merekam data akademik sampai ke program-program studi. Tahun kemarin ada program pemutakhiran data dosen, dan tahun ini muncul SIPKD.

Saya coba melakukan studi ilmiah, penelusuran dan pengetesan. Setelah melakukan “Remote Dianostic” dari Kota Bandung dapat diambil kesimpulan sementara:

1. People:

  • Symptom: Tidak ada “Process Owner” yang jelas
  • Solusi:
    • Dibentuk Gugus Tugas Adhoc Nasional Pemulihan Fungsi SIKPD termasuk “Help Desk”
    • Gugus Tugas (Task Force) Tetap SIKPD

2. Process:

  • Simptom: Tidak adanya “Change Management” dan “Disaster Recovery”dari “Process Owner” IDIKTI)
  • Solusi:
    • Kembali ke prosedur/aplikasi sebelumnya (manual, elektronik atau kombinasi)
    • Kembali ke SIKPD.dikti.go.id dengan “Conditional State” (Penjadwalan berdasarkan region, propins, kota atau universitas)
    • Penggunaan data dari masing2 Universitas yang dikuti dengan proses validasi data
    • Penggunaan SIKPD.dikti.go.id “skala penuh” (Full Blown Operation) dengan SOP dan “Governance” yang disesuaikan kemampuan “People, Process & Technology” yang tersedia.

3. Technology:

  • Simptom:
    • Dari pengecekan diketahui bahwa server berada di Kantor Pusat Depdikbud/DIKTI.
    • Menggunakan database MySQL yang secara default hanya mampu melayani 151 user secara bersamaan (concurrent)
    • Routing jaringan masih cukup panjang di tes dengan Traceroute dari Bandung (9 hop)
  • Solusi:
    • “Memindahkan” server SIKPD ke Penyelenggara jasa Internet yang punya Data Center di Indonesia Internet Exchange (IIX) untuk memperoleh Fasilitas dan Bandwidth yang mumpuni.
    • Tuning server, aplikasi dan database untuk menangani user sejumlah dosen tetap yang mencapai 160 ribu orang
    • Ada “Mirorring Server” SIKPD di setiap Region/Propinsi

Demikian sekilas info🙂

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=E-xf_X0-g8Q]