Tag

, , , , , , ,

wpid-wp-1438604754490.jpeg

Ada beberapa yang ingin saya sampaikan pada Ditjen DIKTI khususnya dan Kemendikbud pada umumnya:

1. Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Demikian John Dewey menegaskan pemikirannya tentang pendidikan. Dengan demikian, umur pendidikan sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini.

Untuk menjadi manusia yang sempurna, manusia tidak boleh tidak memang harus belajar, atau harus memperoleh pendidikan. Manusia merupakan mahluk yang dapat diajar dan dapat mengajar. Animat educandum dan Animal educancus. Manusia mahluk pembelajar, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik.

Untuk itu dibutuhkan pemikiran ekstra keras dari insan pendidikan Indonesia (termasuk di dalamnya Kemendikbud) kepada semua pemangku kepentingan Republik Indonesia (Negara Kesatuan Republik Indonesia) untuk diyakinkan bahwa Pendidikan merupakan “Darah Daging Kehidupan” Bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa, kita seperti keluarga yang mempersiapkan masa depan peradaban keluarganya dengan menyatukan “Heart, Head and Hand” (Hati, Pikiran dan Tindakan). Memang butuh waktu, namun apa yang kita rasakan dan alami adalah hasil karya dari pendahulu kita.

2. Namun demikian, saat ini dimana pertumbuhan ekonomi yang dijadikan panglima dengan tidak berakar pada ekonomi rakyat dan sumber daya domestik serta ketergantungan pada utang luar negeri sehingga melahirkan sistem pendidikan yang tidak peka terhadap daya saing dan tidak produktif.

Pendidikan tidak mempunyai akuntabilitas sosial oleh karena masyarakat (Maha/siswa, orang tua, tokoh, komunitas, kalangan Bisnis/industri, Sosial, Pemerintahan dan lain-lain) tidak diikutsertakan di dalam strategi manajemen pendidikan secara aktif bahkan untul level manajemen sekolah. Pendidikan diselenggarakan dengan mengingkari kebhinekaan dan mengurangi toleransi serta semakin dipertajam dengan bentuk primordialisme.

Hal ini harusnya diluruskan dan ditunjang dengan Visi Kemendikbud yang menekankan menjadikan pendidikan sebagai motor penggerak perubahan dari “masyarakat berkembang” menuju “masyarakat maju” yang adil dan beradab.

Untuk itu dibutuhkan Visi Pendidikan yang berperan seperti “Pandangan Garuda Yang Terbang Tinggi di Angkasa” dimana harus disadari bahwa pembentukan masyarakat maju selalu diikuti oleh proses transformasi struktural. Hal ini yang menandai suatu perubahan dari masyarakat yang potensi kemanusiaannya kurang berkembang menuju masyarakat maju dan berkembang yang mengaktualisasikan potensi kemanusiannya secara optimal.

3. Perlunya SLA (Service Level Agreement/Standar Pelayanan Minimal) yang lebih komprehensif dari sekedar sertifikasi dan “Quality Control” di semua jajaran penyelenggara pendidikan (Sekolah, Kampus dll) dan institusi penunjangnya (Dikti, Kopertis dll). Tujuan utamanya meningkatkan CSI (Customer Satisfaction Index/Indeks Kepuasan Konsumen) yaitu pemakai jasa pendidikan, baik langsung maupun tidak langsung.

Hal itu didukung juga melalui Polling/Riset yang netral sehingga bisa memperlihatkan ROI (Return of Invesment) pendidikan di Indonesia misalnya melalui “Cost Benefit Anaylisis” yang melibatkan multi disiplin ilmu dan kepakaran.

4. Pendidikan adalah sistem proses penguatan (Gain Process Systems). Jadi kalau suatu proses pendidikan memberikan penguatan lebih besar walau masukannya (input) kecil (baca: maha/siswa kurang pintar) maka ia lebih berhasil dibanding yang input-nya adalah mahasiswa pintar.

Mungkin dulu baik dan benar kita harus menjaring dan mendidik maha/siswa yang pintar namun kurang/tidak mampu. Namun kita harus menjaring dan mendidik maha/siswa yang kurang pintar namun kurang/tidak mampu (yang seringkali cerdas karena tidak tergali potensinya) karena kita tahu secara statistik jumlahnya lebih banyak.

Pastinya ini memerlukan “People, Process and Technology” yang mumpuni dimana pendidik menjadi Soko Guru dan menjadi pilar dari “Guru-Ratu-Wong Atua Karo” (Guru-Pemerintah-Orang Tua) yang menjaga dan mengembangkan Peradaban Indonesia.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=7R9AYmfUpu0]