Tag

, , , , , , , ,

Setelah putri kami memilih angklung sebagai ekstra-kurikuler di sekolahnya baik SMP dan SMA, saat ini putra kedua kami ikut jejak kakaknya. Tadi pagi ia ikut “mentas” dalam acara “Angklung Day” di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (18/11/2012).
Tambahan lagi setelah putri kami mendapat kesempatan untuk ikut  pementasan di luar negeri, ketertarikan ini menjadi berganda. Mungkin kebetulan atau tidak, Riris dan Firman menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putra putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah dan di rumah.
Dikutip dari detik.com, Ribuan pelajar dari sejumlah sekolah di Jawa Barat berkumpul di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Minggu (18/11/2012). Mereka memeriahkan peringatan Hari Angklung sambil menenteng alat musik tradisional angklung.
Ketua Panitia Pelaksana Anglung Day, Agung Setiana, mengatakan pelajar yang mengikuti acara ini berasal dari tingkat TK hingga SMA. Selain itu, turut meramaikan kalangan mahasiswa, masyarakat umum, serta komunitas angklung.
“Ini merupakan peringatan dua tahun diumumkannya angklung oleh UNESCO. Angklung diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia,” ucap Agung ditemui di lokasi acara.
Alat musik tradisional khas Jawa Barat yang terbuat dari bambu ini dikukuhkan UNESCO sebagai The Intangible Heritage pada 18 November 2010 di Nairobi, Kenya. Angklung ditetapkan sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.
“Panitia mengundang sekitar 60 sekolah, dan ribuan pelajar turut hadir dalam Angklung Day ini,” kata Agung.
Pelajar itu berbaris di halaman Gedung Sate untuk memainkan anglung secara serentak diiringi perkusi dan paduan suara. Tiap pelajar memegang angklung berbeda nada antara barisan satu dengan lainnya. Kegiatan tersebut berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga jelang siang.