Tag

, , , , , ,

Kita mengkhidmati Peranan Pendidikan sudah menjadi Kebutruhan (Need) bukan lagi Keinginan (Want) lagi sekarang. Ini disadari oleh bangsa-bangsa di dunia akan manfaat pendidikan bagi peradaban manusia. Pantaslah pasca kekalahan Jepang di perang dunia ke-2 akibat dijatuhkannya bom di Hiroshima dan Nagasaki, Hirohito, Kaisar Jepang pada masa itu memanggil para pembantunya untuk membicarakan masa depan negeri mereka. Pertanyaan yang pertama kali diajukan adalah “Ada berapa pendidik yang tersisa saat ini?”

Dari fenomena akhir-akhir ini ternyata pendidikan dirasakan belum memberikan kemanjuran (efficacy) terhadap permasalahan peradaban bangsa Indonesia. Banyak permasalahan besar yang menyangkut nilai-nilai mendasar kemanusiaan yang belum terselesaikan oleh bangsa ini untuk menyambut persaingan antar bangsa yang semakin ketat dan berkelanjutan. Diantaranya kasus korupsi menjadi sorotan yang banyak fihak karena telah “mengkerdilkan” logika sederhana manusia terhadap arti kebenaran dan kemanusiaan. Selain itu, sebagai menu tambahan, ada juga masyarakat di lingkungan pendidikan yang masih mengedepankan penyelesaian “barbarian” dengan membakar atau merusak  sarana pendidikan karena masalah sepele atau bahkan tidak ketahuan ujung pangkalnya. Di fihak lain, adanya sinyalemen bahwa Sertifikasi Pendidik yang memakan biaya tidak sedikit, ternyata belum memberikan pemicu kinerja tenaga pendidik menjadi lebih baik atau memenuhi syarat minimal. So, apakah kita termasuk “Pendidik” yang tesisa itu?