Tag

, , , , , ,

Dikutip dari https://dosenindonesia.files.wordpress.com/2012/05/hormat.jpg?w=300
Kaum muda Indonesia dihebohkan dengan pemunculan dan show Boy Band SuJu dari Korea Selatan. Mereka berbondong-bondong mengelu-elukan idolanya pada “batas yang tidak bisa dibayangkan”. Bahkan ada beberapa yang “mencapai kepuasan batin tak terhingga” setelah melihat atau bertemu dengan idola mereka.
Dikutip dari Kompas, sepanjang pertunjukkan mereka menjerit sambil mengacungkan “light stick” warna biru safir yang harganya sekitar Rp 250.000 per batang dan meneriakkan nama-nama personel kelompok yang kini beranggotakan 11 penyanyi itu. Kadang mereka ikut bernyanyi dan menggoyangkan badan saat band bentukan Lee Soo Man, pendiri SM Entertainment di Korea Selatan, itu mendendangkan lagu-lagu hitsnya. Sejak awal hampir seluruh penonton yang memenuhi ruang konser berlantai tiga itu seperti terbius pertunjukan penyanyi-penyanyi muda Korea tersebut.
Di lain tempat, Justin Bieber seperti yang dikutip dari Republika, salah satu idola dari “Negeri Seberang” memberikan pernyataan kontroversial yang menghina Indonesia sebagai negara tidak jelas dan kualitas rekaman Indonesia buruk yang terus menuai pro-kontra dari para penggemarnya di Indonesia. Salah satu fans Indonesia mengatakan: “Memang dari awal munculnya Justin Bieber juga sudah banyak kontroversial. Bukan cuma sekali ini saja dia menghina atau berulah yang bikin orang sakit hati. Dia juga pernah kasar dengan fansnya.”
Kemudian muncullah figur Syahrini yang mencoba “membela” negaranya Indonesia dengan memberikan pernyataan sengitnya pada Justin Bieber. Diberitakan sebelumnya, Syahrini “berkicau” agar Bieber meminta maaf kepada publik berkait dengan pernyataannya dalam acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi dengan menyebut Indonesia sebagai a random country, yang diartikan sebagai negeri entah berantah. Bukannya disambut positif, akun Twitter @princessyahrini justru diserang para Belieber selama tiga hari berturut-turut.
Ketiga peristiwa tersebut, punya kesamaan “Pemain Peran” yang sama dan sangat penting yaitu Kaum Muda Indonesia. Bagaimana mereka melihat nasionalisme dari sudut pandang remaja Indonesia dihubungkan dengan fenomena “agama baru” yang dinamakan “Fun, Food & Fashion”?
Pada Bukunya bertajuk “Nasional.Is.Me”, Pandji Pragiwaksono (salah satu Tokoh Muda Indonesia Kontemporer) menggugat etos nasionalisme kaum muda yang sedang tergerus. Saat ini, spirit kaum muda banyak yang “absen” dengan nilai perjuangan yang tertancap dalam monumen perjuangan.
 
Penulis melihat melihat ada beberapa indikasi makin runtuhnya nasionalisme kaum muda di tengah gempuran globalisasi. Pertama, Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.
 
Kedua, dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala erkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
 
Ketiga, masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
 
Keempat, adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
 
Kelima, munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
 
Kelima hal tersebut menjadikan nasionalisme tak lagi menancap dalam gerak kaum muda hari ini. Berbagai jebakan yang mengitari kanan-kiri menjadikan kaum muda kehabisan energi melakukan gerak perubahan untuk bangsa.
 
Dalam konteks ini, penulis melihat bahwa perlu gerak rekonstruksi nasionalisme kaum muda hari ini. Tantangan kebangsaan yang kita hadapi sekarang ini telah bergeser dari isu-isu lama ke isu-isu kontemporer yang membutuhkan nilai-nilai baru yang dikonstruksikan sesuai dengan tantangan zaman.
 
Tantangan yang harus diatasi oleh kaum muda hari ini adalah membuat Indonesia berdaulat. Berdaulat atas tanah, air, dan segala yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kedaulatan tak akan berarti jika kesejahteraan hanya menjadi pepesan kosong, sekadar retorika politik yang manis dan bual. Kedaulatan juga tak akan bermakna manakala harkat dan martabat bangsa sering diinjak-injak bangsa lain.
 
Nasionalisme baru kaum muda adalah nasionalisme original yang tidak dibangun dari atas lalu meluncur ke bawah yang oleh sejarawan Charles Tilly, disebut sebagai state-led nationalism. Sebab, nasionalisme kaum muda adalah nasionalisme yang tidak dibentuk oleh rezim, melainkan sesuatu yang muncul secara alamiah.
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)
Itulah yang dikatakan oleh Bung Karno atas harapannya pada kaum muda. Apakah nasionalisme kaum muda sekarang bisa menjawab tantangan Bung Karno tersebut? Wallahu Alam Bissawab