Tag

, , , , , ,

Saya adalah salah seorang peserta didik di UPI (bukan “mahasiswa” karena hanya siswa biasa). Pada saat masuk Pascasarjana UPI pada pertengahan tahun 2009, dengan bangga saya katakan alasan kenapa memilih perguruan tinggi ini. Alasan historis dan sosio kultural yang membawa saya ke kampus ini. Kedua orang tua adalah lulusan IKIP, bahkan nama “Sardjana” pada nama saya diberikan kepada ibu oleh salah seorang penguji sidang skripsinya. 
Walaupun lulusan S1 Telematika dan S2 Manajemen Telekomunikasi dari salah satu perguruan tinggi di Bandung, saya memilih UPI sebagai “cinta terakhir” pencapaian akademis. Mengapa, saya sangat mengkhidmati bahwa “Schools is not an assembling plant“. Saya juga berpandangan seorang peserta didik melihat dan meneladani pendidik (dan juga sekolah) bukan saja dari apa yang dikatakan atau diberikannya, tapi apa yang dirasakannya…….
Apa yang terjadi akhir-akhir ini di UPI adalah suatu paradoks, serta ada ketakutan pribadi, intitusi ini tidak bisa lagi menjadi  “Benteng Terakhir Peradaban Manusia Indonesia“.  Pada saat di institusi/tempat lain dimana “Human Capital” menjadi aksioma yang selaras antara Hati (Heart), Pikiran (Head) dan Tindakan (Hand) yang akan membawa kita ke level yang lebih tinggi, kelihatannya UPI kehilangan tempat berpijak.
Kalimat di atas  dikutip dari salah seorang pendidik di Universitas Nyenrode pada saat berkunjung ke sana dengan peserta didik dan pendidik dari UPI setelah saya menjadi pembicara di London University-Institute of Education. Betul kiranya mengapa UPI diharapkan menjadi “Benteng Terakhir Peradaban Manusia Indonesia”, karena disinilah pemikir, perencana, pemimpin dan pengawas pendidikan akan dilahirkan. 
“Aku percaya bahwa seorang pendidik yang hebat adalah seorang seniman besar. Pendidikan bahkan mungkin seni yang terbesar karena medianya adalah pikiran dan jiwa manusia.” Itulah ungkapan John Steinbeck tentang Peran Pendidik Terhadap Kehidupan Manusia.  Alangkah indahnya bila Pendidik dan pemangku kepentingan di UPI selalu memaknai dan menghidmati bahwa peserta didik adalah calon penerus mereka dengan harapan membuncah seperti pada anak kita sendiri. Pendidik dan pemangku kepentingan di UPI diharapkan menanam benih pengetahuan, kearifan, kebijakan dan tauladan yang menyebar menjadi pohon kehidupan serta menghasilkan buah peradaban.
Kita melihat, merasakan dan membuktikan bahwa sejarah bangsa ini tidak lepas dari peran pendidik/guru dari UPI yang menjadi “Benteng Terakhir” untuk merubah jalan buntu menjadi sesuatu. Kita yakin jasa mereka akan menjadi bekal hidup anak cucu….Semoga…