Tag

, , , ,

Ditengah ramainya pernyataan Ketua Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas yang menyindir pejabat negara dan anggota dewan yang kerap kali bergaya perlente. Ia menilai lembaga negara dihuni pemberhala nafsu dan syahwat politik kekuasaan dengan mora­li­tas rendah sehingga mengakibatkan berakarnya budaya korupsi.

Dilain fihak pernyataan ini mendapat tanggapan beragam. Anggota Komisi X DPR Reni Marlinawati punya suara sama dengan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas yang menyentil gaya hidup hedonis pejabat negara. Bagi dia, stigma anggota dewan bergaya hidup mewah kini tidak terbantahkan. Selain itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii M­a­arif menilai apa yang disam-pai­kan Busyro tepat. Buya sampai kehabisan kata-kata untuk me­ngomentari gaya hidup pejabat yang hedon tersebut. “Apa lagi yang harus saya ko­mentari. Apa yang disampai­kan Pak Busyro itu memang be­nar. Ini fenomena gunung es,” tutur Buya Syafii 

Sedangkan dari fihak yang berkeberatan diantaranya Politisi Partai Demokrat (PD), Ruhut Sitompul, punya pendapat tersendiri seputar politisi yang hidup mewah. Ia bilang, hidup bergelimang harta tidak masalah asal tidak melanggar aturan. “Buat saya kaya tidak masalah. Yang penting jangan melanggar aturan. Saya tidak takut karena tidak melanggar aturan. Apa salah kalau menjadi orang kaya?” lanjut Ruhut.

Hal yang “netral” diungkapkan oleh Ketua DPR Marzuki Alie yang berpendapat pejabat negara sulit dipaksakan untuk hidup sederhana. Hidup sederhana itu tergantung kebiasaan dan pergaulan. “Semua tergantung pendidikan, itu nggak bisa dipaksakan setelah tumbuh dewasa, ibarat rotan sudah jadi. Sulit untuk dipaksakan,” ujar Marzuki 

Mungkin jaman sekarang, tepat sekali apa yang diungkapkan foto yang saya peroleh beberapa waktu lalu dari Pak Nukman Luthfie, yaitu  “Duduk Manis Tidak Peduli Orang Menangis“……..